Sebelum sebuah rasa benar-benar hilang dari meja keluarga, ia biasanya masih ada di kepala orang yang memaksakannya setiap hari. Tidak ada yang mencatat. Rasa itu berpindah dari satu dapur ke dapur lain, diwariskan lewat tangan yang sama, lalu menyusut pelan bersama waktu. Jejaknya tinggal satu, yaitu cerita yang belum sempat ditulis orang.
Karena itu, kegiatan pengumpulan arsip dan kurasi budaya kami jalankan. Kertas bertulis penting, tapi tak cukup. Arsip yang terkumpul lalu dikurasi, ditata kembali, dan dikembalikan ke konteksnya, ke masyarakat yang selama ini memegangnya. Nilai lama kembali diperkenalkan bukan sebagai barang museum, melainkan sebagai hal yang masih hidup dan masih dipakai dalam keseharian.
Pekerjaan ini belum selesai di atas kertas. Arsip selalu menyisakan pekerjaan rumah: mana yang sudah utuh, mana yang masih berupa cerita yang belum terkonfirmasi, dan mana yang perlu ditanyakan langsung kepada orang yang memegangnya. Di Desa Wisata Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Majalengka, proses seperti itu berjalan terus, sedikit demi sedikit, bersama warga yang paling dekat dengan ceritanya.
Sampai jumpa di Pasar Bumi Pakuwon. Di sana, catatan yang sudah dirapikan akan kembali bertemu dengan rasa yang menjadi sebabnya, dan dengan orang-orang yang selama ini menjaganya. Datang saja ke Desa Wisata Bantaragung untuk melihat bagaimana sebuah cerita lokal dikumpulkan, ditata, lalu dibiarkan hidup kembali di tempat asalnya.


